Friend Request oh Friend Request

Sebenarnya tulisan yang serupa pernah aku publikasikan di blog-ku sebelumnya. Mungkin yang pernah berkunjung ke blog-ku sebelumnya pasti langsung ingat tentang tulisan semacam ini (*atau jangan-jangan tidak ada yang mengunjungi kecuali crawler bot?*).

Selain ingin menguji kreatifitas dalam upaya membangkitkan energi internal, juga ingin sedikit meminta pendapat teman-teman blogger atau kepada siapapun yang tiba-tiba nyasar tanpa tahu kenapa jadi berada di blog ini tentang Friend Request atau Permohonan Pertemanan pada jejaringan sosial. Walaupun tertunda beberapa lama, bahkan screen shot yang diambil sudah tidak uptodate, akhirnya tulisan ini terpublikasikan ke dunia maya (jangan-jangan jadi susah dapat inspirasi gara ini).

Sekedar catatan – tulisan ini hanyalah sebuah opini pribadi, dalam tujuan dan penulisannya, aku tidak memberikan suatu ajakan yang memaksa dan data yang kuberikan tidak memiliki tingkat akurasi tinggi. Semoga ini hanya akan menjadi diskusi ringan tanpa perdebatan.

Kisah berawal

Salah satu alasan awalku untuk tidak menerima permohonan pertemanan pada akun milikku yang berada di beberapa situs jejaringan sosial adalah aku ingin menghilang dari beberapa kenangan pahit dan manis dunia maya (*curhat nih, tapi bukan masalah cinta – menghindari orang-orang yang illfeel mendengar kata cinta*). Dengan menjauhkan pandanganku dari orang-orang yang kuanggap berada erat dalam suatu kenangan, aku berharap dapat melupakan tiap byte salah satu peradaban yang ingin kutinggalkan itu (dan itu berhasil).

Kenapa Harus Membatasi Friend Request?

Salah satunya adalah sama dengan alasan yang kuutarakan di atas, salah dua nya? Karena aku ingin orang-orang yang terdaftar sebagai teman di akun jejaringan sosial-ku adalah orang-orang yang benar-benar kenal kenal (aku kenal atau dia pernah kenal) dan juga orang-orang yang pernah berinteraksi denganku secara langsung.

Ngomong-ngomong masalah privasi, beberapa jejaringan sosial memiliki fitur seperti “hanya orang-orang yang terdaftar sebagai teman yang dapat melihat aktifitas, status, dan hal-hal yang kita bagikan / share“. Tentunya hal itu akan sangat menguntungkan bagiku, mengingat status juga merupakan salah satu privasi – apabila kita memiliki banyak teman yang tidak begitu kita kenal, akan memperbesar kemungkinan status kita akan menjadi sebuah masalah. Seperti contoh:

Barusan aku makan di rumah makan A, karena pelayanan yang kurang memuaskan, akhirnya aku tanpa pikir panjang menulis status / update berisi omelan, dan tanpa disadari, salah satu temanku ternyata adalah anak dari orang yang mempunyai rumah makan tersebut dan akhirnya terjadi perang mulut… [cerita bersambung sesuai imajinasi masing-masing]

Homepage / timeline penuh dengan ocehan orang tidak dikenal?

Hal ini sebenarnya tidak terlalu berpengaruh padaku, tapi tentunya akan cukup menyebalkan jika harus melihat status-status orang yang tidak pada tempatnya (baca= alay) memenuhi homepage setiap kali login ke akun jejaringan sosial. Mending kalau kenal, jangankan kenal, bahkan kita sendiri lupa kapan pernah add (tambahkan sebagai teman) orang tersebut.
Sama hal nya aku dengan salah seorang temanku, akhyar, yang tidak ingin sembarang follow dengan alasan Twitter sering dijadikan ajang chat padahal yang terpenting adalah dia hanya ingin melihat update terbaru, bagiku lebih baik mendengarkan curhat orang yang benar-benar aku kenal daripada mendengarkan ocehan orang-orang yang hanya ingin sekedar punya banyak friend (kembali pada masing-masing orang, terkadang ada juga yang melakukan add dengan tujuan memang benar-benar ingin mencari teman).

Tidak hanya di Facebook dan Twitter, di Plurk pun aku menerapkan hal yang sama. Paling tidak mereka yang ingin berkenalan atau menjadi teman harus menyapaku terlebih dahulu (bukannya sombong, tetapi hanya ingin memastikan mereka serius). Walaupun membatasi ruang lingkup pertemanan, tidak dapat disanggah bila aku sendiri pernah mengirim permintaan pertemanan (add), tentunya aku sendiri tidak ingin dicap sombong misalnya ada teman yang belum ku-add dengan alasan menunggu dia sendiri yang add duluan.

Bagaimana yang lebih baik?

Mengajukan pertemanan dan benar-benar menjalin hubungan sosial, jangan menghilang seakan cuek dengan orang-orang yang terdaftar sebagai teman.

Mungkin akan berbeda ceritanya dibandingkan dengan orang-orang yang memang sudah menjadi terkenal, setidaknya ia tahu kalau yang mengirim permohonan pertemanan adalah orang-orang yang merasa ingin mengenal sosok dirinya. *Apalah daya, aku bukan lah artis :P*

Jadi, bagaimana dengan anda? Bagaimana pendapat anda tentang pertemanan di dunia jejaringan sosial?

Komentar Facebook

23 Comments

  1. Azwar August 18, 2010 at 8:02 pm

    Mangstap…
    Setuju dah sama yang jar ikm heng ae,
    tpi mslhnya sudah keburu add yang kd penting,,,

    mungkin cara aq ngakalinya kalo di fb, feed2 orang kd penting di hide dari home..
    Coz kalo hapus satu2 cape deh…
    Lagian kali aja dia ada keperluan sama q.. xD. Lalu di fb ada list2 katagori teman..
    Ada teman sma, kuliah, atau berdasarkan kota, bahkan organisasi.. Hehe..

    Kalo twitter, sama sih, q buat perlist private..
    Kalopun banyak yg g penting bgt di timeline home, tinggal pencet list buat sort by news misalnya, atau politikus, artis, atau teman kampus.. Gt..

    Kalo plurk mah g terlalu ketat.. Asal jgn ada yang memanjang aja *ketawa guling2*


    1. akhy August 21, 2010 at 7:36 pm

      di plurk mah semuanya mengalir bagai air.. gak ada kata-kata macam “hai kenalan dong, anak mana?” pokoknya add/follow, respon.. dibalas.. ngobrol.. udah kayak teman lama aja :))

      dengan catatan gak ada spammer dan pengharap respon spam :tai:


      1. Hengki Dwiyan Hermawan August 22, 2010 at 1:16 am

        Yang tulisannya memanjang ke bawah ditambah dengan emoticon2 gak jelas haha.

        Asalkan respon sesuai thread, tidak menjadi masalah.


      2. ipul August 22, 2010 at 7:25 am

        hahaha mantab, mengalir seperti air, sampai-sampai bingung mana yang teman mana yang baru kenal, pokoknya ngobrol juga deh saya hahahaha, btw agan yang punya plurk sapa aja ya? saya baru nih, add ya “ipulwebid”



  2. Hengki August 18, 2010 at 8:49 pm

    Yap. dapat menjadi salah satu alternatif tuh.
    melakukan hide di facebook.

    tapi di facebook lbh banyak hal pribadi, untuk wacana publik sudah ada blog ini. hehehe

    ada lagi yang bisa menambahkan tips?


    1. ipul August 23, 2010 at 10:24 am

      diremove aja mas FBnya hehehe


  3. Agus Siswoyo August 19, 2010 at 12:29 am

    Kalau tentang facebook, saya mundur dulu deh. Sejak 2 bulan lalu sudah saya cerai dan fokus ke Twitter. Hehehe…

    Makasih sundulannya mas.


    1. Hengki Dwiyan Hermawan August 20, 2010 at 5:27 pm

      Loh kok bisa. hehe. Kalau saya masih aktif semua, dari FaceBook, Twitter, Plurk, tetapi sekarang lebih aktif di Plurk.

      Iya, sama-sama, terimakasih motifasinya.


  4. cidtux August 19, 2010 at 6:49 pm

    aku dah gak pny fesbuk.. tinggal plurk satu2nya :mewek


    1. Hengki Dwiyan Hermawan August 20, 2010 at 5:29 pm

      Hehehe. kenapa mas? *kedengarannya mirip yang di salah satu iklan swasta di TV*
      :matabelo


  5. FaDhLi August 21, 2010 at 4:11 pm

    Friends request saya udh mncapai 500 lbih, tpi malas kali untuk mengapprovenya. Soalnya lbih enak yg 500 org tu adlh teman2 lama kita, nah klo begitu bru lah saya approve..hehe..


    1. Hengki Dwiyan Hermawan August 22, 2010 at 1:18 am

      Benar tuh, masih sependapat dengan saya. Hehe.. tapi sebenarnya ada juga yang bilang, kita bisa memulai pertemanan dari FaceBook, tapi itu bukan niat saya, saya ingin berinteraksi dulu selain di FaceBook, baru menjadi teman di FaceBook.


  6. Uchan August 24, 2010 at 8:51 am

    Saya malah heran ngeliat orang friend list nya sampe 2000-an

    bener2 kayak fans club :ngakak


    1. Hengki Dwiyan Hermawan August 25, 2010 at 8:57 pm

      haha… benar sekali, entah memang benar-benar fans, atau jangan-jangan cuma asal add. Tapi kalau yang di-add orangnya cakep-cakep atau cantik-cantik itu sudah bisa ditebak maksud dan tujuannya. hehe


  7. Asop August 26, 2010 at 2:33 pm

    Kalo buat saya sih gampang aja. Selama yang minta request pertemanan tidak saya kenal, ya saya ignore. :thumbup



  8. imadewira August 27, 2010 at 11:28 am

    untuk di FB, belakangan ini saya mulai lebih selektif



  9. kangmas ian August 30, 2010 at 10:46 am

    hehe saya setuju sm mas henky sebenarnya saya g pada kenal sm yang nge add saya tapi kadang saya aprrove aja tapi iya hanya menuh2in aja ya..mending nerima yang kenal2 aja setuju hehe kayanya saya akan menerapkan seleksi ni kaya mas hengky
    makasih mas


    1. Hengki Dwiyan Hermawan September 5, 2010 at 3:20 pm

      Iya. Sama-sama, tapi kalau niatnya baik, memang ingin kenalan, tidak ada salahnya untuk me-approve


  10. Zhay September 6, 2010 at 4:06 pm

    betul bgt mas, tapi karena tujuan say bikin fb untuk internet marketing, makanya hampir yang mo jadi teman ya saya approve…ditambah lgi bilangnya kang Lutvi, klo cuma mo berteman sama yg sudah kenal, mending ga usah pake jejaring sosial yang mempunyai fungsi menambah teman he3x…

    Tapi ya tergantung penggunanya masing-masing…betul ga mas?


    1. Hengki Dwiyan Hermawan September 10, 2010 at 6:51 pm

      Wah ada pendapat lain lagi nih :D… Iya juga sebenarnya. Hehe. Tapi harus keep contact, kalau tidak, yang benar-benar teman bisa hilang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *