Kopi, Sumber Inspirasi

2 tahun yang lalu aku bisa dibilang ‘fobia’ naik angkutan tertutup seperti mobil, bus, dll. Keengganan naik transportasi tersebut hanyalah karena aku takut mabuk darat. Serius. Setiap kali naik mobil rasanya hanya ingin tertidur sepanjang jalan dan tiba-tiba sampai. Sebagian orang bilang kalau mabuk darat adalah sugesti. Entah benar atau tidak, tapi memang sepertinya benar. Mendengar kata ‘naik mobil’ saja sudah membuatku pusing dan ingin muntah. Haha. Tetapi semua itu berubah. Bukan karena negara api menyerang, tapi karena sedikit demi sedikit aku berhasil membuat sugesti itu hilang. Tepatnya ketika aku mendapatkan pekerjaan yang memerlukan mobilitas cukup tinggi; mengharuskan aku bepergian jauh menggunakan mobil. Syukurlah.

Setiap orang pastinya punya teman berpikir. Entah itu disadari ataupun tidak. Ada yang menggunakan beberapa benda yang menjadi teman berpikir seperti musik yang keluar dari ponsel, rokok kretek yang bila dihisap akan terdengar bunyi kretek-kretek, televisi dengan suara lirih, jam tangan yang berdetak secara konsisten, atau foto penuh kenangan yang dibingkai. Sebagian orang menaruh kopi sebagai hal wajib dalam mengerjakan sesuatu. Tidak hanya menahan kantuk agar tetap terjaga, banyak yang bilang kalau kopi adalah sumber inspirasi.

Aku pernah membaca artikel tentang bagaimana kafein mempengaruhi kreatifitas. Kalau tidak salah, artikel itu ada di salah satu situs berbahasa inggris, tapi bukan situs sains. Boleh percaya atau tidak, yang aku baca bahwa kafein pada kopi memblok reseptor kimia di dalam tubuh yang menyuruh kita untuk beristirahat. Jadi, sebenarnya secangkir kopi tidak memberimu energi untuk bekerja lebih, hanya saja iya mengatakan hal yang berbeda kepada tubuh. Karena tahan lama sinyal antara neurotransmitter di otak berarti memberimu kesempatan untuk menggabungkan ide-ide kreatif yang kamu miliki sebelumnya.

Secangkir Kopi (Sumber: Pixabay)

Secangkir Kopi (Sumber: Pixabay)

Kembali lagi dengan sugesti. Dulu aku bukan salah satu penggemar kopi. Bila selesai atau sedang minum kopi, entah kenapa biasa-biasa saja. Kopi yang diminum pun sebenarnya juga sachet-an. Bukan kopi pahit yang sebenarnya. Eh, tapi sekarang, entah kenapa kopi pahit terasa lebih pas di lidah. Pada awalnya hanya malas membuka toples gula yang ada di kantor. Setelah itu mencoba-coba kopi yang ada di kedai-kedai kopi hingga akhirnya merasa nyaman meminum kopi tanpa gula. Ngomong-nomong masalah gula, coba kenali penyebab diabetes. Entah mengapa setelah sering minum kopi sambil melakukan kegiatan seperti membuat desain atau nulis, ketika sedang melakukan salah satu hal itu tanpa ditemani kopi, rasaya ada yang kurang. Mungkin karena tersugesti atau memang benar adanya kalau kopi dapat membantu kreatifitas. Who knows?

Demikian sebuah tulisan tentang kopi-kreatifitas-sugesti. Jangan lupa untuk meminum kopi di waktu yang tepat. Jika besok harus sekolah atau bekerja, jangan minum kopi di larut malam. Haha. So, apa hal wajib yang bisa menemanimu dalam berkreatifitas?

Posted by

Seorang Public Relations Officer di kampus swasta dan blogger lulusan Pendidikan Bahasa Inggris yang merangkap sebagai website administrator. Pembaca Akut dengan hobi menulisnya di bidang teknologi. Memiliki ketertarikan di bidang fotografi dan desain.

4 comments » Write a comment

  1. Idih bahasanya “neurotransmitter”. Entah lah aku kdtahu, tapi kadang memang terbukti, habis minum kopi pasti beda rasanya kaya sedikit tenang asal cafe latte. Tapi kalau kopi hitam rasanya jantung gedagupan jadi kdkawa guring handak begawian tarus :v

    kopi-kreatifitas-sugesti Hmm… ini meolah artikel dari tiga kata kah kisahnya..

  2. Wah lain penikmat kopi nah Minum kopi sachetan aja jarang.. apalagi minum kopi bujuran hahaha…
    Tapi mun disurung kopi lawan urang kada nolak pang.
    Ketujunya banyu putih lawan es teh, teh hangat, jeruk hangat atau jeruk es aja saya ni hahaha

  3. Pingback: Rusaknya Keyboard Laptop yang Lama Tidak Terpakai - HengkiHengki

Leave a Reply